Esai Sastra Novel "00.00" oleh Rosita Dwi Syafitri
Esai Sastra Novel "00.00"
karya Ameylia Falensia
Oleh: Rosita Dwi Syafitri
https://images.app.goo.gl/XwZQH1aZpBs4xkqZ9
Novel 00.00 merupakan karya Anugrah Ameylia Falensia yang sering dikenal dengan nama Amey atau Cumi. Buku ini bergenre fiksi romantis, buku ini juga mengandung banyak pesan yang tersirat dan tersurat. Beberapa di antaranya, pentingnya peran sosok ayah dalam kehidupan putrinya dan dalam menjalin hubungan harus saling terbuka agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Menurut saya, tema novel ini sangat berhubungan dengan keadaan seseorang, yaitu tentang kehidupan menyakitkan seorang gadis remaja yang keluarganya hancur. Sulit untuk bertahan hidup untuk kehidupan yang lebih baik. Lengkara Putri Langit atau biasa dipanggil Kara, mengalami perubahan hidup yang sangat kacau setelah ayahnya menikah lagi dengan wanita memiliki anak satu. Kebahagiaan Kara perlahan mulai menghilang. Rumah yang katanya tempat paling nyaman untuk pulang setelah perjalanan jauh, tak lagi bisa dirasakan olehnya. Saudari tirinya selalu merampas apa yang membuatnya bahagia. Mulai dari perhatian dan kepercayaan ayahnya, kakaknya, sahabatnya, bahkan kekasihnya. Saudari tirinya, tidak akan pernah memberi ia kesempatan untuk bahagia. Ia lelah hidup dengan rasa sakit dan berjuang sendirian, tak jarang ia melukai dirinya sendiri dan mengharapkan kematian segera datang menjemputnya.
Menurut saya, buku ini mengandung banyak sekali amanat, yaitu pentingnya kehadiran keluarga dalam kehidupannya. pesannya, berusahalah untuk tetap hidup, sesulit apapun hidup dan seberat apapun masalah yang ada. Bukan berarti kamu tidak boleh menangis. Menangislah sedikit, lalu segera bangun kembali. Namun dibalik itu pasti ada seseorang yang siap menopang kita saat kita jatuh. Dalam buku ini juga banyak bagian yang mengajarkan kita bahwa tidak semua orang akan selalu menjadi pelaku, tetapi banyak dari mareka yang rela menjadi pelaku karena keadaan memaksanya. Namun sosok yang digambarkan dalam buku ini adalah dia yang tetap berusaha berani melawan ketidakadilan alam semesta, berani bangkit meski dunia menginjaknya dan berani menghadapi kekalahan pada akhirnya. Jika hati berani jatuh, maka ia juga harus berani patah, entah karena kehilangan atau keadaan.
Editor: NA
Publisher: TR

Komentar
Posting Komentar